Festival Budaya Yang Digelar Dispar NTT Jauh Dari Harapan

Berita Aktual
Hans Rumat, anggota Komisi V DPRD NTT

Kupang, swarakasih — Pelaksanaan festifal budaya yang selalu sering digelar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pariwisata dilakukan tanpa melalui proses yang bagus sehingga hasil yang didapat juga jauh dari harapan.

“Bila even (festival) berjalan sesuai kelender bulanan atau tahunan bahkan mingguan, minimal berdampak pada tingkat kunjungan. Apakah itu domestik, mancanegara tidakbsoal. Tapi yang diharap dari akhir even tersebut sebenarnya tingkat kunjungan,” ungkap anggota Komisi V DPRD NTT, Hans Rumat, Jumat (11/10/2019) di gedung Dewan setempat.

Menurut Rumat yang juga sebagai pelaku Pariwisata, agar festival yang terlalu sering dibuat dan terkesan dadakan itu berdampak, maka Dinas Pariwisata seharusnya menggandeng pelaku pariwisata bersama mendatangi daerah atau wilayah yang disebut sumber wisatawan.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengusulkan kepada Dinas Pariwisata agar even yang terlalu sering dibuat itu tidak hanya ditonton oleh warga dan staf Dinas Pariwisata, maka Dinas Pariwisata diminta agar sebelum menggelar festival terlebih dulu memahami populasi penduduk di daearah yang dijadikan tempat festival sehingga tidak terkesan dadakan dan tanpa melalui perencanaan.

“Populasi penduduk dimaksud agar sumber pendapatan di daerah yang dijadikan tempat festival perputaran uang di daerah itu diatas rata-rata,” katanya.

Untuk itu lanjut Rumat, pemerintah melalui Dinas Pariwisata harus mempunyai feeling wisata sehingga berapapun anggaran yang diusulkan pemerintah dapat disetujui Dewan.

“Bila Dinas Pariwisata tidak mempunyai feeling wisata maka berapapun anggaran yang disetujui DPR menjadi sia-sia atau tidak menghasilkan output yang diharapkan,” tegas Rumat.

Sebagai anggota Komisi V DPRD NTT yang bermitra dengan Dinas Pariwisata, Rumat menilai, dengan kepemimpinan gubernur Victor Laiskodat saat ini yang salah satu visi misinya adalah meningkatkan pariwisata di NTT, maka Dinas Pariwisata harus segera meninggalkan pola lama yang hanya menghabiskan anggaran tanpa ada masukan bagi daerah.

Tidak Melalui Perencanaan

Fidel Nogor

Sementara itu pegiat pariwisata yang konsen menulis tentang Pariwisata NTT, Fidel Nogor menilai, pelaksanaan Festival Budaya NTT yang terlalu sering digelar dan terkesan dadakan serta kurangnya persiapan adalah suatu upaya maju yang bertujuan mengingatkan generasi muda agar tidak terlena dan hanyut dalam perkembangan zaman yang telah menggrogoti jiwa masyarakat sekarang.

“Festival yang dilaksanakan pemerintah untuk pelestarian budaya daerah, baik itu seni tari, maupun seni musik bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi generasi muda agar tidak melupakan tradisi budaya yang dimiliki,” jelas Nogor.

Namun disisi lain lanjutnya, pelaksanaan festival yang digelar Dinas Pariwisata NTT yang terlalu sering hanya menghabiskan anggaran daearah tanpa ada hasil yang signifikan karena tidak disosialisasikan secara baik melalui media.”Setiap Festival yang dibuat tidak melalui perencanaan yang matang sehingga kesan yang dinilai saat pelaksanaan festival hanya dihadiri oleh peserta dan pelaksana festival itu sendiri,” tegasnya.

Seharusnya sambung Nogor, satu tahun sebelum dilaksanakan festival budaya, Dinas Pariwisata terlebih dahulu mempromosikan rencana kegiatan tersebut melalui media sehingga pada puncak pelaksanaannya nanti tidak saja hanya dihadiri oleh warga sekitar dan panitia pelaksana, tetapi dihadiri pula oleh wisatawan dari luar NTT dan mancanegara sehingga pelaksanaan festival benar-benar sesuai harapan. (andi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *