Peserta NSD Belajar Memahami Dari Berbagai Komunitas di Indonesia

Berita Aktual Internasional Nasional Uncategorized
Elcid Li, Direktur IRGSC saat memberi sambutan ketika bertemu Jamaah Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (31/7/2019).

Kupang, swarakasih — Program Nusantara School of Difference atau Sekolah Perbedaan Nusantara yang dilaksanakan sejak 27 Juli 2019 sampai 10 Agustus 2019 oleh Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) dan Communities Engage with Difference and Religions (CEDAR) di provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan melibatkan sebanyak 27 orang peserta dari Lima negara dan Delapan provinsi telah ditutup.

Menurut Elcid Li dari IRGSC, Nusantara School of Difference (NSD) yang dilaksanakan pada tahun 2019 merupakan kegiatan dua tahunan yang sebelumnya dilakukan pada tahun 2017 lalu yang tetap melibatkan berbagai unsur.

“Untuk kegiatan tahun 2019 ini, tema yang diangkat adalah untuk mengingatkan kita bahwa perjalanan Indonesia adalah perjalanan untuk saling memahami dan mengerti, sebab kekuasaan saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan, karena itu kita harus memahami dulu persoalannya,” katanya.

Selain itu lanjut Li, kegiatan yang melibatkan para peneliti dari kalangan akademisi, aktivis serta tokoh agama dari berbagai negara menjadi sangat penting karena persoalan geopolitik yang saat ini terjadi diberbagai belahan dunia tidak mungkin dipecahkan jika kita tidak memahami persoalan di belahan dunia yang lain.

Kegiatan NSD berupa workshop yang dilakukan di tiga provinsi yakni Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur diikuti sebanyak 27 orang peserta yang berasal dari Amerika Serikat, Vietnam, Moldova, Kyrgyzstan serta Indonesia, yang berasal dari Delapan provinsi masing-masing Aceh, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

“Dalam kegiatan itu para peserta diajak untuk melihat, mengalami, merasakan, dan menganalisa tentang dampak kategori minoritas/mayoritas dalam hidup sehari-hari dalam berbagai komunitas,” ungkap Li.

Belajar Bersama ODHA
Selama keiatan di provinsi Jawa Barat, peserta NSD diajak belajar bersama warga yang terkena penggusuran di Taman Sari, para pegiat pemberdaya Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Rumah Cemara, komunitas Syiah, warga Jamaah Ahmadiyah, Komunitas Sunda Wiwitan, Gereja Kristen Pasundan, serta Komunitas Katholik Cigugur.

Selama di Bandung, para peserta NSD yang berasal dari berbagai negara juga berupaya menginterpretasikan ulang tentang Kongres Asia Afrika dalam konteks kontemporer. “Dalam era terkini kekuatan finansial berbagai lembagai internasional semakin membuat janji-janji kemerdekaan maupun impian negara-negara Asia Afrika di awal kemerdekaan terasa semakin kosong,” ungkap Hendro Sangkoyo.

Dalam kunjungan peserta NSD ke Rumah Cemara, peserta juga memberikan perspektif baru dalam penanganan kasus HIV/AIDS yang prevalensinya semakin meningkat di Bandung. Rumah Cemara bertekad turut serta dalam upaya penanggulangan AIDS dan pengendalian NAPZA nasional beserta perumusan kebijakannya yang berpihak pada pemenuhan HAM dan kesetaraan.

Selama di Jawa Barat para peserta yang berasal dari lima negara ini juga berkunjung ke Kuningan dan berdialog dengan warga Sunda Wiwitan di Cigugur dan Jamaah Ahmadiyah di Manis Lor. “Saya sangat bersemangat mengikuti pertemuan ini di Jawa Barat, meskipun karena waktunya amat pendek, keinginan untuk berdialog dengan warga biasa masih sangat terbatas, saya berharap bisa tinggal lebih lama untuk belajar, mudah-mudahan di Timor Barat bisa saya dapatkan,” kata Rosnida Sari, dosen UIN Arr Raniri Banda Aceh.

Para warga Jamaah Amadiyah di Manis Lor yang di Kuningan pun juga berharap bahwa hidup berdampingan secara damai perlu menjadi usaha semua pihak. “Kunjungan ke Jawa Barat ini membuat saya banyak belajar tentang warna-warni di dalam agama, prasangka yang saya punya gugur ketika saya berkunjung ke Jawa Barat, orang-orangnya begitu ramah,” kata Romo Januario Gonzaga dari Keuskupan Agung Kupang.

Prof. Adam Seligman dari CEDAR (bertopi membelakangi kamera) bersama peserta NSD menari bersama warga Desa OhAem (8/82019)

Kunjungi Lokalisasi di NTT
Selama berkunjung di NTT, para peserta belajar dari berbagai komunitas diantaranya, Komunitas Film Kupang (KFK), Jamaah Al Islah Al Islamiyah Lasiana, Komunitas Muslim di Desa Tliu, Kecamatan OeEkam, kabupaten Timor Tengah Selatan, warga desa OhAem, Amfoang, serta para pekerja seks komersil di Karang Dempel, Kota Kupang.

“Saya tidak bisa berkata-kata tentang tentang sambutan yang kami terima, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dan penerimaan yang begitu baik,” ujar Prof.Adam Seligman ketika menutup kunjungan di Desa OhAem, Amfoang, Kabupaten Kupang, Jumat (9/8/2019).

Emil Natridinov, salah satu peserta yang berasal dari Kygrzstan yang juga merupakan Antropolog dari American University of Central Asia di Bishkek, Kygrzstan mengungkapkan, sejak hari pertama dirinya sudah terpukau karena secara maraton disuguhkan dengan beragam budaya lokal dan kelompok sosial. “Saya belajar banyak tentang masyarakat Indonesia dan persoalan yang kompleks yang melingkupi hubungan antara kelompok-kelompok minoritas dan mayoritas.

Sedangkan peserta dari provinsi NTT diwakili oleh Pdt.Irwan Makoneng dan Pdt.Merry Kosapilawan dari GMIT, Romo Januario Gonzaga dari Keuskupan Agung Kupang, Siti Hajar (Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang), dan Yohanes Victor Lasi Usbobo.

Sedangkan para pengajar yang terlibat dalam Nusantara School of Difference tahun 2019 adalah Prof.Adam Seligman, Hendro Sangkoyo PhD, Wawan Gunawan, Risa Permanadeli PhD, Dr.Philipus Tule SVD, John Campbell Nelson PhD, Nia Syarifudin (ANBTI), Savic Alielha (NU On line), Emmy Sahertian (BPP Advokasi dan Perdamaian Sinode GMIT) , David Fina (Yayasan Alfa Omega), dan Adelina (OPSI).

Untuk diketahui, IRGSC adalah lembaga riset aksi yang berbasis di Kupang, NTT dan CEDAR merupakan lembaga yang berbasis di Boston, Amerika Serikat. Sedangkan Nusantara School of Difference merupakan insiatif IRGSC dan CEDAR yang didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTT, Sinode GMIT, dan Keuskupan Agung Kupang. (andi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *